ojoklali

Kamis, 19 November 2009

buka mata..pasang telinga..selingkuhkah pasangan Anda????atau anda yang selingkuh????Have a nice weekend. ***** Selingkuh Bukan Cuma Seks! Rino (nama samaran), 43, terduduk lemas. Perselingkuhan istrinya membuat pria pekerja keras itu kaget, geram, tak percaya, kecewa, dan pasrah. Hancur sudah harapannya memiliki sebuah rumah tinggal. Luluh lantak juga upayanya menyisihkan gaji bulanan, selama sepuluh tahun terakhir. Semua gara-gara selingkuh, kuh, kuh!


Lima belas tahun lalu, Rino menikahi wanita yang dicintainya, sebut
saja Tina (38) di Yogyakarta. Dua tahun kemudian, setelah anak
pertama lahir, mereka pindah ke Jakarta. Mereka mengontrak sebuah
rumah di kawasan Cileduk. Karena lingkungan rumah itu dirasa kurang
sehat, dua tahun kemudian Rino memboyong keluarganya ke Kebonjeruk.
Rumah mungil itu penuh pepohonan, sehingga hobi Rino bercocok tanam
agak tersalurkan.

Malu lima tahun menjadi "kontraktor" alias pengontrak rumah, Rino
dan Tina sepakat menyisihkan gaji bulanan untuk membeli rumah
sendiri. Uang tabungan ini disimpan dalam rekening bank atas nama
Tina. Rino pun minta izin pulang agak malam, untuk
mencari "tambahan" penghasilan, membantu bisnis percetakan temannya
di kawasan Kedoya.

Sepuluh tahun berlalu, Rino merasa, sudah waktunya mereka memiliki
rumah sendiri. Apalagi tabungan di bank sudah cukup, harga properti
pun sedang miring. Makanya, dia begitu sumringah ketika seorang
teman kantor menawarkan sebuah rumah di daerah Srengseng, Jakarta
Barat. Harganya pas di kantung, kondisi rumah plus lingkungannya oke
punya.

Sore itu, dengan hati berbunga, Rino memarkir motor di teras rumah
yang sudah dikontraknya 11 tahun. Tina yang sedang menyetrika,
ditariknya ke dalam kamar. "Aku sudah menemukan rumah. Suasananya
sejuk seperti di sini. Harganya pun terjangkau." Anehnya, air muka
Tina berubah drastis. "Besok kita lihat ke sana. Aku sudah kasih
persekot," bujuk Rino.

Makin aneh, Tina malah menangis. "Maaf, Mas," akhirnya dia
bicara, "Uangnya sudah kupakai membantu perawatan bapak tempo hari,
dan membantu kuliah Dik Anto dan Dik Wanti. Sisanya tinggal Rp 20
juta saja." Byar! Bagai tersambar petir, Rino langsung tak berdaya.
Nyaris pingsan dia.

Kartu kredit bengkak

Kasus yang dijumput dari ruang praktik Dr. Sukiat, ahli psikologi
klinis khinis yang juga konselor perkawinan ini, konon bisa
digolongkan perselingkuhan. Lo, kok begitu?
Ya, "Yang dimaksud berselingkuh adalah perbuatan yang dianggap
menyimpang dari kesepakatan bersama, dan dilakukan tanpa
sepengetahuan pihak lain," kata Sukiat meluruskan.

Psikolog yang pernah bikin geger dengan hasil penelitiannya di suatu
majalah, bahwa dua dan tiga wanita Jakarta memiliki PIL (pria idaman
lain) ini menyayangkan sikap Tina yang tidak berterus terang pada
suaminya, tentang penggunaan uang tabungan itu. Jika sejak awal
dibicarakan, tentunya Rino bisa memahami, sehingga ia tidak
terlanjur memiliki angan-angan muluk tentang sebuah rumah masa depan.

Alhasil, sudah dua tahun terakhir ini pasutri yang dulu bahagia itu
tak bertegur sapa. Susah payah Sukiat mendamaikan perang dingin itu.
Menurut staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini,
kasus sejenis cukup sering terjadi. Selain Rino-Tina, juga Rendy
(nama palsu), 35, bernasib serupa. Staf pimpinan cabang sebuah bank
yang pernah lolos likuidasi ini mempercayakan pengelolaan keuangan
rumah tangga pada istrinya yang cantik, Meiske (bukan nama asli),
33, jebolan sekolah sekretaris.

Sejak pandangan pertama, Rendy memang tertarik pada kepandaian
Meiske merawat penampilan. Walau anak mereka sudah dua orang,
penampilan istninya itu tak beda jauh dengan saat masih gadis.
Namun, manisnya cinta luntur perlahan oleh tagihan kartu kredit
Meiske yang sejak setengah tahun ini grafiknya menanjak terus. Rasa
cinta Rendy membuatnya tumpul di hadapan Meiske.

Buntutnya, Rendy meledak juga, ketika dua bulan terakhir itu tagihan
kartu kredit melebihi gaji bulanannya. Berarti, ia harus berutang
untuk menutupinya. Dari hasil "interogasi" terungkap, gaya hidup
istrinya itu amat mahal. Biaya salon, sandang dan pangan, serta
ongkos pergaulannya, biasa diatasi dengan menggesek kartu kredit.
Belum lagaknya yang bak
nyonya besar saat di arisan. Suka memberi pinjaman, tapi gengsi
menagih. Pantas saja Rendy kebobolan.

Yang paling menyakitkan hati Rendy banyak informasi dan sumber resmi
dan terpercaya, sejak setahun belakangan ini Meiske memiliki PIL.
Belum sebulan lalu, Rendy memutuskan bercerai, bukan karena ia
merasa otot-ototnya kalah besar dengan pacar Meiske yang pelatih
kebugaran itu, tapi ia merasa dikhianati dan dibobongi. Jika
dimaafkan, di masa depan pasti Meiske akan mengulangi lagi dengan
derajat perselingkuhan lebih canggih.

Kasus perselingkuhan, memang ibarat makanan basi. Walaupun dibungkus
rapi, suatu saat akan mengeluarkan aroma tak sedap. Sumarni (63),
misalnya. Selama 40 tahun mendampingi Broto, mantan karyawan salah
satu maskapai penerbangan, seorang figur suami dan ayah ideal yang
setia dan mencintai keluarga. Rumah tangga mereka membuahkan enam
orang anak dan 11 cucu. Sayang, dua tahun lalu Broto meninggal dunia
karena serangan jantung.

Suatu pagi, saat menyuapi cucu, seorang pemuda mengetuk pintu pagar.
Karena mengonfirmasi alamat Pak Broto, ia dipersilakan masuk dan
duduk di teras. Sumarni terheran-heran mendengar kisah si pemuda
asal Malaysia yang mengaku telab bertahun-tahun mencari ayahnya. Ia
yakin ayahnya masih hidup, meski sejak kecil ibu dan keluarganya
bilang, sang
ayah sudah meninggal. Si pemuda lantas mengeluarkan sebuah foto.
Foto seorang ayah sedang menggendong bayi. Foto itu, ternyata, foto
Broto!

Sumarni hampir pingsan. Tampaknya, ketika bertugas setahun di negeri
jiran, suaminya yang baik hati itu berselingkuh, hingga punya anak.
Untunglah, nenek bijak itu cepat menguasai diri. Ia bahkan
mengantarkan anak tirinya itu berziarah ke makam Broto. Ketabahan
hati yang dipuji oleh Sukiat. Meski ceritanya mungkin akan berbeda,
jika Broto masih hidup.

Banyak jalan selingkuh

Tak dipungkiri oleh Sukiat, ketika tahu pasangannya selingkuh,
umumnya reaksi suami atau istri pasti frustasi atau kecewa berat.
Sebab, harapan agar pasangan selalu komit terhadap kesepakatan
bersama, ternyata dilanggar.
Rata-rata mereka yang tersakiti akan bertingkah laku agresif.
Artinya, menyatakan kekecewaan dengan menyerang dan menyakiti fisik
atau perasaan orang lain, baik secara verbal maupun nonverbal.

Tingkah laku agresif verbal misalnya mengucapkan kata-kata yang
langsung menyakiti atau lewat sindiran-sindiran pedas. Sementara
tingkah laku nonverbal antara lain berbentuk penyerangan fisik,
ngambek, mogok bicara, mogok berfungsi sebagai istri atan suami, dan
sejenisnya.

Selain itu, orang yang frustasi bisa menampilkan tingkah laku
blocking dalam bentuk depresi atau murung, sedih yang
berkepanjangan. Yang jarang terjadi, "Si pasangan bertingkah laku
adaptif rasional, yaitu tanpa emosi negatif yang berlebihan seperti
marah, murung, jengkel, dan
lain-lain. Ia berusaha memahami mengapa pasangannya melakukan
perselingkuhan. Lalu mencari alternatif pemecahannya," terang
Sukiat, sembari mencontohkan reaksi positif Sumarni.
Sedangkan pihak yang berselingkuh, setelah perbuatannya diketahui
pasangan, biasanya langsung bereaksi defensif. Pertama-tama ia akan
dengan keras tidak mengakui perbuatannya. Dengan berbagai dalih
mempertahankan diri, tak mungkin dirinya berselingkuh. Namun,
setelah disajikan bukti-bukti nyata, ia akan menyerang balik dengan
menyalahkan pasangannya sebagai penyebab perselingkuhan. Misalnya,
menyalahkan sikap dan perbuatan pasangannya yang begini dan begitu.

Bila suami yang berselingkuh, menurut Sukiat, ia akan kebingungan
dan stres berkepanjangan. Hal ini karena rasa tanggungjawabnya. "Ia
tak bisa meninggalkan istri dan anak-anaknya, juga sulit melepas WIL-
nya. Kecuali salah satu dari mereka, istrinya atau WIL-nya, ngotot
untuk berpisah." Sebaliknya, bila istri yang berselingkuh, ada yang
sampai tega meninggalkan keluarganya.

"Hal ini dapat dipahami, karena dalam hal bercinta, perempuan
menganut penyerahan total," kata Sukiat. Meski dia juga mengakui,
ada pula pihak istri peselingkuh yang kembali pada suami dan anak-
anaknya.

Omong-omong, bagaimana sebenarnya perselingkuhan bisa terjadi?

Berdasarkan pengalaman praktik Dr. Sukiat, umumnya suami
berselingkuh ketika istri mulai "tidak nyambung" lagi ketika diajak
bicara, baik dalam topik pembicaraan maupun wawasannya. Dengan kata
lain, tidak dialogis lagi. Bisa juga lantaran si istri hilang respek
terhadap suami, sehingga cenderung menyalahkan, menuntut, bahkan
merendahkan suami.

Selingkuh bisa pula terpacu oleh keinginan advonturir seks, atau ada
masalah dalam kehidupan seksualnya dengan istri, yang tidak
diungkapkan. Sebaliknya, tandas Sukiat, istri berselingkuh umumnya
bukan karena seks sebagai faktor utama, melainkan karena kesepian
secara batiniah. Maksudnya, "Suami kurang peduli, kurang perhatian,
kurang mengasihi yang ditunjukkan secara nyata, kurang mengayomi,
dan tidak ada lagi hal-hal yang perlu dikagumi pada diri suami."

Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Pertama-tama, masing-masing pihak harus mengelola emosinya. Dalam
keadaan emosi tinggi, bukannya penyelesaian yang akan terjadi,
melainkan pertengkaran yang tambah meruncing. "Bila emosi dalam
keadaan rendah, masing-masing pihak akan sabar dan mau mendengar
secara utuh serta memahami pihak lain. Masing-masing juga mau
mengungkapkan pendapat serta perasaannya tanpa menyakiti hati pihak
lain," jelas Sukiat.

Setelah memahami pihak lain, selanjutnya ditinjau ulang pemahaman
tentang tujuan berkeluarga. Apabila tujuannya sama, misalnya
membesarkan dan mendidik anak untuk menjadi manusia dewasa yang
berguna, barulah didiskusikan berbagai alternatif jalan keluar dari
permasalahan itu. "Satu hal yang perlu diperhatikan, jagalah
kesabaran. Perubahan tidak akan terjadi seperti membalikkan telapak
tangan. Bisa terjadi sebulan, berbulan-bulan, bahkan mungkin
bertahun atau berpuluh tahun."

Berdasarkan pengalaman, setelah jalan keluar ditemukan, pihak yang
diselingkuhi biasanya menuntut terjadi perubahan dengan cepat dan
segera. Padahal, sikap itu akan membuat masalah kembali ke titik
nol. Jadi, "Sikap sabar akan sangat, sangat membantu," tutup Dr.
Sukiat. (Dharnoto/Intisari)

Sumber: Selingkuh Bukan Cuma Seks

0 komentar:

Poskan Komentar

 
 
 
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini